Iceland – Part 1

Lagi-lagi sebuah tulisan Ragil Caitra @Ragilcaitra dalam buku 30 Passport di Kelas Sang Profesor menginspirasi saya dalam melakukan perjalanan ke luar negeri. Empat bulan sebelum keberangkatan, ide ini muncul dan saat itu pula saya memutuskan untuk mengunjungi tempat yang sama dikunjungi oleh Ragil Catra – Iceland!

This journey actually is not for myself only. My travel-mate has birthday in April and we’d like to celebrate his birthday in his most-wanted-place-to-go and see the northern light Aurora Borealis in Iceland. So, we decided it! Flight booked on early January after new-year promo by QATAR airways. Airbnb houses and some hotels booked also on January and February.

There are something different in my itinerary between before and after the journey. I will update it later so you can download it.

 

DAY 1 – 28 Maret 2017 : 4°C

Flight from Amsterdam to Keflavik.

Landing di Keflavik. Bandaranya tidak terlalu ramai orang. Begitu pula antrian untuk money changer dan kios tiket fly-bus untuk ke Reykjavik. Perjalanan menuju Reykjavik akan begitu membosankan tanpa gunung-gunung es di ujung horizon. Kanan kiri jalan hanya dihiasi batuan-batuan coklat tua kering yang membosankan. Tidak ada rumah atau pohon-pohon. I’ll tell you that those rocks are lava! Kalau kamu suka dengan pengetahuan alam, penampakan batuan-batuan lava ini cukup menarik buatmu, namun tetap saja membosakan untuk dilihat selama 30-40 menit perjalanan sebelum sampai di kota dan pelabuhan di Reykjavik.

Menuju ke Airbnb house kami, perlu 2 kali ganti bus. Pertama kami naik bus fly-bus dari bandara ke terminal BSI, dan jalan ke halte bus untuk naik BSI bus ke rumah yang kami tuju. Hari pertama kami masih sedikit bingung dengan jalur bus dan dimana tepatnya kami harus berhenti. Kami salah halte dan harus jalan kaki kembali ke halter sebelumnya. Haha…namun semuanya dibuat senang biar perjalanan tidak terbebani. Apalagi suhu saat itu sangat dingin, ditambah lagi angin semribit yang membuat perjalanan kami semakin seru!

Di sudut-sudut perempatan lampu merah terdapat tumpukan es setinggi pinggang orang dewasa. “Siapa sih yang buang buang es di pinggir jalan, emangnya restaurant disini gak perlu es lagi kok dibuang?”, pikirku. Hingga mendekati rumah yang kami tuju, kami baru sadar ternyata tumpukan es itu salah salju yang menutupi jalanan, lalu dibersihkan oleh petugas jalanan dan dikumpulkan dan dibiarkan mencair dengan sendirinya! Oh Tuhan… ES!!

Ternyata perjalanan dari bandara sampai ke rumah tidak cukup untuk kami memulai eksplorasi kota Reykjavik. Badan rasanya lelah, mata minta untuk tidur, perut pun minta makan, meskipun saat itu baru pukul 9 malam dan langit masih terang. Our host, Maureen adalah seorang Ibu yang sangat baik dan anak-anak Maureen yang super seru membuat kami merasa bersyukur telah memilih rumah mereka sebagai tempat tinggal kami selama dua hari ke depan. Keluarga baru di Islandia!

DAY 2 – 29 Maret 2017 :  6-4°C

The Golden Circle

Rencana awal kami ingin mengunjungi golden circle di pagi hari menggnakan public transportasi, namun ternyata menunggu bus di halte di luar dengan suhu dingin jauh lebih menyakitkan daripada mengeluarkan uang untuk sewa mobil. Belum lagi kalau kita salah jalur bus atau tidak ada bus menuju ke tampat-tempat yang kami inginkan dan kami harus jalan kaki untuk mencapainya. WE ARE FREEZING ALREADY!

Kami berdiskusi, mengalkulasi biaya, memutuskan untuk menyewa mobil dari hari itu juga.  Solo travelling sungguh perlu dilakukan dalam hidup, namun saat kamu punya travel-mate atau travel-partner, kamu akan sangat bersyukur karena bisa saling melengkapi. Tentunya travel-partner yang bisa saling bantu, bukan benalu. Setelah mobil kami dapatkan, kami jalan-jalan keliling Reykjavik, Church Hallgrimskirkja, mencoba makanan khas Islandia dan melihat-lihat toko-toko souvenir di Reykjavik. Gilaak! Harganya  mahal booook! Misalnya 1 gantungan kunci seharga 950 ISK atau sekitar 8 Euro (110,000 rupiah). Bahkan untuk harga rata-rata souvenir di eropa, yang ini termasuk mahal! Tapi hari pertama kami banyak survey-survei harga untuk melakukan perbandingan di hari-hari selanjutnya.

Setelah asik jalan-jalan di kota, kami kembali ke rumah untuk istirahat dan persiapan untuk mengunjungi golden circle di sore hari. Biasanya wisatawan mengunjungi tempat ini di pagi hari, dan tentunya akan ramai orang. Anyway, “jam malam”-nya disini saat ini adalah sekitar pukul 22.00, so kami tidak khawatir untuk pulang malam. Apalagi, host kami, Maureen bilang kalau di Islandia itu hampir memiliki zero criminality alias hampir tidak ada kejahatan yang berarti. Pantas saja saat kami jalan-jalan di kota tadi, kami banyak melihat barang-barang dagangan digantung dipinggir jalan dan sedangkan pemiliknya ada di dalam toko. Meraka tidak takut kalau barang-barang mereka dicuri atau dirusak orang. Anehnya, kamu atau aku atau bahkan traveler disana memiliki pikiran untuk mengambil barang-barang di luar. Iceland seperti memiliki magis untuk menjagamu berbuat baik. Heavenly Iceland! Tidak percaya? Datang aja ke Iceland!

Pukul 16.30 mulai jalan dari Reykjavik ke Thingvelling dan Geysir. Sekitar 2 jam perjalanan. Jangan percaya dengan estimasi waktu yang diberikan oleh Google, roughly Google memberi estimasi perjalanan pasti meleset sekitar 30 menit hingga 1 jam dari 1 jam yang diestimasikan.

Banyak wisatawan yang menyarankan untuk mengunjungi Thingvellir saat di Iceland. Kami mengunjungi Thingvellir namun tidak banyak hal-hal yang menarik disana. Kecuali kamu adalah orang yang memiliki ketertarikan di geografi atau geofisika dan ingin melihat penampakan pertemuan dua lempeng yang bergeser dan keindahan danau dari ketinggian, tempat ini akan menjadi tempat yag menarik untukmu. Tapi tidak untuk hari pertama saya di Iceland. Kita bisa juga melakukan trekking ke danau atau mengemudi diantara lempeng-lempeng. Estimasi untuk mengunjungi tempat ini tidaklah lama, 1-2 jam cukup untuk menikmati pemandangan dan foto-foto.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Geysir. Eruption air dan uap panas menyembur ke atas hingga tiga puluh meter. Kurang lebih setiap 10 menit sekali geyser ini menyemburkan air dan uap panasnya. Biasanya kalau siang ramai orang karena ini salah satu tempat wajib dikunjungi di Iceland. Beruntungnya kami kesini sore hari jadi hanya beberapa orang, bahkan kurang dari 10 orang saja.

Thingvellir
Thingvellir
Geysir
Geysir
Geysir

-BERSAMBUNG KE NEXT POST YA… –

 

Oiya, perjalanan ke golden circle itu luar biasa. Melewati gunung-gunung es dan hamparan salju putih yang menyenangkan. Tentu saja nyetir lama-lama gak kuat dong. Kami beberapa kali berhenti ke tepian hanya sekedar untuk bermain salju dan berlarian diatas padang savana yang tertutup salju. menyenangkan sekali. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *